Entah mengapa tahun ini hujan turun sangat telat,
Musim kemarau berjalan begitu panjang.
Panas terik menerpa mengigit kulit menelurkan butir peluh.
Membawa kepenatan, membawa kesegaran, membawa peringatan.
Panas terik....!!
Betapa panas, membawa arti yang begitu dalam,
Setiap kali bertemu dengan panas, seringkali kita menghindar,
Apakah karena panas membawa kegosongan yang sudah hampir pasti?
Entah lah...!
Hujan gerimis...!!
Romantisme hidup mulai tergali,
Seakan hujan membawa pengaruh yang demikian dalam.
Kadang hati yang duka dan dirundung sedih,
Bak awan yang siap meneteskan hujan ke bumi.
Hujan deras...!!
Banjir dan kesengsaraan baru dimulai.
Kesulitan dan keburukan kembali terlihat.
Korban... Luka.... Harta.... Benda..... terkadang hilang.
Hasil jerih lelah sepanjang tahun....
Hilang...... Hilang......
Hujan, diakhir tahun, membawa nuansa mellow ke hati,
Akankah hati seperti awan gelap yang menutupi nur cahya,
Akankah hati gelap menangis,
Akankah hati memantulkan kilauan cahaya air yang menetes,
ataukah.....
Ataukah hati menampakkan kejernihan,
Kejernihan yang timbul setelah awan gelap hilang dan hujan turun menyapu,
seakan membersihkan bumi dari kotoran-kotoran yang melekat.......
Ya, hatiku, cintaku, lakuku, biarkan berjalan seperti musim....
Berubah.....!,
Tetap.....!,
Tinggal.....!,
Bergejolak.....!,
Bergemuruh.....!,
Tenang.....!
Biarlah Berubah.....!,
Biarlah Tetap.....!,
Biarlah Tinggal.....!,
Biarlah Bergejolak.....!,
Biarlah Bergemuruh.....!,
Biarlah Tenang.....!
Bagian jiwaku yang terdalam..! Kupeluk dan menjadi bagian diriku...!!
Kucinta dan kudekap.... tak pernah meninggalkanku...!