Hari ini gua diterpa awan kesedihan yang mendalam. Satu dari kawan, rekan sekerja di kantor yang meninggal dunia akibat kanker, dan seorang lagi adalah ayah dari kawan gua sesama anak koor Concillio. As ppl could say the cliche word of consolation: Well, kalau memang sudah saatnya, mau diapain lagi? Serahkan saja ke Yang Maha Kuasa. Maka gua dengan sedikit bitchy akan bertanya, apakah that's kind of consolation word yang dibutuhkan oleh orang2 yang sedang bersedih demikian dalamnya?
Gua ingat suatu hari ketika nenek gua yang terakhir (nenek dari nyokap!!), suatu hari meninggal ketika gua masih SMP, gua ingat hari itu hari kamis, gua masih berpakaian pramuka, dan tiba2 wali kelas gua yang baik, datang dan mengatakan sesuatu ke gua, "Nri, kamu boleh pulang sekarang, hati-hati ya di jalan, dan jangan terlalu banyak pikiran!" Gua tanya dengan lugunya, "Ada apa bu?" Dia gak menjawab hanya bilang: "Pulang aja, nanti juga kamu tahu sendiri. Hati-hati, ya?"
Then, as I tiba di rumah, tiba2 kondisi rumah berasa begitu suram, dulu gua gak mengerti apa perasaan tertekan yang gua rasakan ketika menginjakkan kaki pulang ke rumah pada waktu itu, secara keceriaan gua tiba2 hilang. Secara, gua hanya beranggapan itu hari biasa tiba2 dikasih pulang lebih awal, apa gak senang? Tapi begitu menginjakkan kaki di depan rumah, gua tiba2 merasakan tekanan jiwa yg gak gua mengerti.
Akhirnya gua tahu bahwa nenek gua terlah meninggal, setelah sekian lama sakit dan berjuang kembali menjalani kehidupan dia sebagai kanak2 setelah masa kesulitan yang luar biasa memberikan nafas kehidupan kepada keluarga nyokap yang memang mengalami kesulitan cukup banyak dari sisi finansial (kata siapa cina semuanya kaya?? HUH!! kok gak nyambung ya?).
Kembali ke masa tadi, gua berpikir, ketika banyak orang datang ke rumah dan memberikan kalimat-kalimat klise seperti kalimat diatas, nyokap yang secara memang paling histeris dan sempat terpingsan-pingsan karena meninggalnya nenek gua, sepertinya tidak bisa memberikan sedikit keceriaan setelah mendengarkan kalimat itu. Dia tetap menangis dan menangis, menangis, menangis, hingga dulunya gua sempat gak tahan untuk menangis, walaupun udah gua tahankan, dan ketika mendekati masa penguburan akhirnya dari lubang di atap rumah nenek gua yang dari kayu itu, gua bisa melihat kebawah dan akhirnya gua menangis.
Perkabungan. Ntah sudah berapa kali kita pergi ke perkabungan. Ada rasa apa di dalamnya? Ada kesedihankah? Gua selalu memiliki rasa yg berbeda setiap kali mengunjungi perkabungan, secara ada teman dekat gua yang meninggal, ada saudara, ada bokap teman, ada yg bahkan gua gak bisa ke perkabungannya. Tadi ketika gua mengunjungi tempat bersemayam terakhir sebelum di bawa ke Lumajang (teman sekerja gua), gua merasakan perasaan tertekan, tetapi sepertinya perasaan tertahan ini adalah wujud ekspresi kesedihan gua.
Bekerja di rumah sakit, membuat gua bersyukur boleh melihat banyak sisi dari wajah manusia. Wajah bahagia karena kesembuhan, senyum kebahagiaan karena kelahiran, kesakitan penyakit yang menahun, kesedihan karena kematian atau kepucatan karena nasib yang seakan udah ditentukan. Gua belajar, belajar memahami manusia, belajar memahami dan mendalami perasaan gua sendiri, dari orang lain dan dari diri gua. Gua belajar seperti pencarian identitas gua sebagai seorang ANRI, untuk menjadi seorang ANRI seutuhnya, or at least sebagaimana gua sekarang.
Seperti Ayub, yang memiliki 4 teman yang baik dan mendampingi dia disaat dia kehilangan seluruhnya, bukan karena dia, tapi karena Yang diAtas membiarkan hal tersebut terjadi untuk menguji kemurnian imannya, contoh sikap yang paling menyentuh adalah mereka berdiam, mengoyakkan jubah, menaruh abu di kepala, dan diam disamping ayub. Gua yang seorang melan sanguinis, sering kali gak bisa nggak untuk langsung mengeluarkan kalimat klise seperti diatas. Kapan gua bisa diam dan gak ngomong, hanya berada disana, diam, belajar memahami, belajar berada disana, belajar tidak berkata2, tapi berkata dengan perbuatan, menangis, memeluk, memberikan penghiburan, sedalam kalimat ini menyentuh ke orang2 yang membutuhkannya? Kapan? Gua belajar...... Gua sedang belajar...!