Musim hujan datang terlambat di Jakarta, atau kena delay? Gua gak tahu! Yang jelas setelah sekitar bulan Oktober, yang sempat diselingi hujan, dan kata BMG, menandai mulainya musim hujan di Indonesia, plus sebuah badai guede, yang kata seorang Kapten, mirip sejuta topan badai, yang melanda Atjeh, bulan Januari ini Jakarta hujan lagi, setelah dijeda ma panas lumayan terik di bulan-bulan akhir di tahun yang lalu.
Jakarta...!!
Indonesia...!!
Ini tanah air toempah darah, sudah benar-benar tertumpah darahnya. Setelah serentetan cerita keganasan alam yang melanda, plus cerita tentang keganasan manusia di negeri ini. Tanah ini memang telah menumpahkan darah. Darah banyak manusia. Tapi, manusia-manusia tanah ini sepertinya belum jera untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan primordial yang membuat bangsa ini menjadi seonggokan sampah yang tidak berguna. Sedih sekali!!
Hei, jangan salah bung!! Saya juga sampah, tapi saya berusaha menjadi sampah yang berguna! Sampah yang setidaknya memiliki arti selain membusuk dan menjadi bau memuakkan, dan akhirnya mudah-mudahan (BACA! MUDAH-MUDAHAN!!!), menjadi sesuatu yang berharga setelah tertanam kembali ke bumi tercinta ini. Sesuatu yang berasal dari tanah (debu) akan kembali ke tanah (debu). Yah, saya dan anda berasal dari debu, kadang kita lupa, kita adalah sampah, yang setelah bertemu dengan renik-renik dan mikroba (INGAT pake bantuan mikroba), kita akhirnya menjadi sesuatu yang berarti. Tanpa itu kita hanya tersisa seperti itu. Lapuk dan tak bernyawa.
Ah, bung, kamu cuman bersandiwara dan bersajak. Hahaha, iya saya bersandiwara, saya bersajak. Walaupun sandiwara saya, memuat anda...! anda...! DAN Anda...! YA, anda yang didepan layar komputer dan membaca tulisan ini. YA, ada anda di dalamnya, anda mengisi hari-hari saya, hari-hari seorang sampah, yang bergaul dengan sampah yang lain. Bergaul, ya bergaul! Istilah yang sedikit dipelesetkan bisa berarti melakukan hubungan badaniah dengan seseorang.
SO, WHAT??
"Kita hidup, kita hanya hidup, tidak lebih tidak bukan."
"Saya dari saya! Kamu jadi kamu!"
"Ah, kamu lucu katamu! Tulisanmu ngalor ngidul! Tak berujung pangkal! Tak bermakna! Tak berarti!"
Tidak penting apakah itu berarti atau tidak, tidak penting itu berujung atau berpangkal atau tidak! Tokh kita sampah, apakah sampah perlu berarti terlebih dahulu sebelum menjadi sampah? Saya kira tidak!! Walaupun mungkin sebelumnya wujudnya adalah sebuah pembungkus jam atau bahkan sebuah jam sekalipun, tetap saja, itu Jam dan bukan sampah. Di wujud sebelumnya dia bukan sampah, dia adalah JAM, dan itu yang berguna, bukan sampahnya.
SO, WHAT??
Hahaha, kenapa berpikir jauh? Kenapa berpikir diluar konteks? Kalau kamu sampah, jadilah sampah yang baik, jangan berpikir terlalu jauh dan diluar dirimu. Sampah, ya sampah, tidak perlu menjadi barang mewah. Kamu tidak akan menjadi lebih rendah lagi, setelah melewati fase ini. Kamu sudah di bentuk kamu yang terendah. Tidak mengapa! Jadilah sampah dengan bersahaja, jadilah sampah yang benar-benar sampah! Bukan sampah yang lebih tidak berguna, karena tidak mampu di olah lagi oleh bumi ini. Jadilah sampah yang bersahaja!!!
Jakarta, lantai 5 sebuah rumah sakit swasta.
Seorang Jomblo, Cina, Sok pemikir, sok filosofis, sok tua!!
Menerawang langit Jakarta yang baru saja tadi pagi turun hujan,
dan sekarang ada tanda-tanda hujan lagi.