|
Thursday, November 24, 2005
What is it in a name...!!! (extended edition)
Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan dan dukungan moril dari beberapa kawan (especially, Mbak Ria, dan Tjie tjie Pram), gua memutuskan untuk melakukan sebuah tulisan lanjutan mengenai tulisan pertama gua yang berjudul What is it in a name...??. Seharusnya semuanya ini tidak perlu dilakukan sekiranya tidak ada desakan langsung dari saudara-saudara yang menyempatkan diri untuk melakukan komentar-komentar penting dan cerdas yang bahkan memaksa gua untuk artikel kali ini melakukan ekstra research di internet (Thank you, google for this, and for wikipedia, juga!! superb link!!!), mengenai nama untuk orang-orang keturunan seperti gua. Btw, ada beberapa hal yang mau gua luruskan dulu dari tulisan gua. Mulai sekarang ini, gua tidak lagi akan menggunakan kata "keturunan" dalam pembahasan gua, tetapi lebih mempergunakan kata lain yaitu peranakan, yang sudah tentu lebih dekat diasosiasikan kepada golongan yang gua wakili.
Satu hal yang gua dapat dari hasil penyelidikan gua, rupanya gua masih tahu sedikit sekali mengenai budaya peranakan di Indonesia ini, apalagi kalo gua mencoba untuk mengatakan kalau tulisan gua merupakan representasi dari sebuah kebudayaan besar di dunia. So, jangan sampai anda merasa kalo tulisanku ini sudah lengkap untuk memberikan informasi kepada anda mengenai beberapa hal berhubungan dengan topik yang dikupas, tapi lebih gua akan berikan link yang mudah-mudahan lebih membantu dalam mengetahui dengan mendetail dan mendalam mengenai topik tertentu, yang tentu saja didukung oleh google dan banyak perlengkapan lainnya yang berhubungan dengan internet. Btw, jangan malas ya? Loe pada punya blog dan bisa bloghopping, jadi pasti ngegugling dan ngewiki bisa loe lakukan, iya nggak? hihihihihihi!!! :)
Oke, on to the subject at hand. Setelah membahas panjang lebar (narcistics mode on), mengenai penamaan dalam budaya tradisi peranakan yang lebih totok (istilah ini akan gua jelaskan setelah ini). kali ini gua lebih mengfokuskan diri gua kepada tulisan mengenai, penggunaan bahasa melayu (indonesia) dalam penulisan nama di lingkungan peranakan di Indonesia tentunya. Pada awalnya, gua akan mulai dengan memberikan sedikit gambaran mengenai lingkungan peranakan yang sekarang ada di indonesia. Mungkin sebagian kita (termasuk yang peranakan asli), nggak sadar kalo sebenarnya dirunut sejarah, peranakan di Indonesia itu, sudah merupakan keturunan dari, at least 3 gelombang eksodus, masyarakat Chinese di dunia. Gelombang ini membawa beberapa dampak terhadap tata cara penggunaan bahasa, dan pengaruhnya terhadap bahasa melayu dan Indonesia itu sendiri. Berikut adalah penjabarannya:
1. Gelombang pertama kedatangan bangsa Chinese di Indonesia, dimulai oleh Cheng Ho (Zhang He a.k.a Sang Po). Sepertinya kalo gua nyebut nama ini, pada udah langsung mudheng, apalagi kalau anda kelahiran Semarang (kalo gua gak salah ingat). Karena beliau ini dikenal sebagai seorang pelaut ulung yang berlayar jauh demi mencari mata air awet muda, dari Kaisar Cina tentunya. Sampai akhirnya mereka mendarat di daratan Indonesia, dan merupakan salah satu awal mula penyebaran agama Islam kalo nggak salah ingat di Indonesia. :)
2. Gelombang kedua, adalah setelah Perang Candu di Cina. Tentulah, kalo negara gua kacau gara-gara candu, mending gua lari ke negara lain, iya nggak seh?????
3. Gelombang ketiga dan bisa disebut sebagai gelombang terakhir ini diperkirakan pada awal paruh abad ke duapuluh.
Nah, dari ketiga gelombang ini, dua gelombang pertama yang lebih dulu datang, merupakan gelombang tertua yang akhirnya bercampur dengan budaya setempat dan kemudian mempergunakan bahasa melayu yang merupakan campuran bahasa melayu dan hokkien, yang oleh gelombang selanjutnya disebut hua-na (dalam Hokkien). Mereka inilah yang disebut sebenarnya sebagai orang-orang Peranakan. Sementara orang-orang gelombang ketiga, yang baru saja menginjakkan kaki ke Indonesia, dan lebih dekat ke budaya asal tanah leluhur disebut sebagai orang-orang Totok. (tentu istilah ini sering loe dengar!!). Btw, gua termasuk golongan ketiga ini, secara gua masih keturunan kedua langsung dari nenek gua yang nota bene langsung datang dari daratan Cina sana!! ;)
Para keturunan peranakan inilah yang berpengaruh besar dalam proses penamaan orang-orang tionghoa di Indonesia. Mengikuti nama dari hasil akulturasi Eropa (Belanda dan Spanyol terutama), maka penamaan orang-orang Tionghoa di Indonesia dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Penamaan dengan pelafalan bahasa Asli mandarin dengan lafal baba Melayu. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh orang-orang Peranakan yang mempergunakan bahasa Baba Melayu (Pssst, do you know dulunya nyonya dipakai untuk memanggil nama seorang wanita dewasa Peranakan di Indonesia?), maka orang-orang tersebut melakukan penamaan dan pelafalan model pembacaan Hokkien, secara bahasa baba melayu memang dipenuhi oleh kosakata hokkien. Jadi nama-nama seperti, Soe Hok Gie, Kwik Kian Gie, Liem Swie King, Yap Thiam Hien, Auw Jong Peng Koen, Liem Soe Liong, dlsb, sebenarnya merupakan nama pelafalan Hokkien yang dipengaruhi oleh bahasa baba melayu. Contohnya: Dalam bahasa mandarin nama Liem Soe Liong kalau dilafalkan adalah Liem Sau Liang, tapi lain halnya dalam bahasa baba melayu, menjadi Liem Soe Liong. Nah, orang-orang Peranakan inilah yang menerapkan salah satu standar awal penulisan nama dalam khasanah berbahasa di Indonesia. (Ingat Asmaran Khoo Ping HO? hehehehe!!!).
2. Penamaan dengan pelafalan bahasa Indonesia. Nah, ini sedikit banyak berhubungan dengan Politik. Thanks to kebijakan politik dimulai dari tahun 1960an, sampai dengan Orde Baru. Penggunaan nama dengan 3 or lebih huruf itu dihilangkan bahkan dianggap melanggar hukum di dalam wilayah Indonesia. Lekat sekali diingatan gua mengenai bokap yang terpaksa harus melepaskan nama mandarinnya, menjadi nama lebih Indonesia, untuk sekadar mendapatkan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia). San sejah sat ini sampai tahun 1998, ketika babe kita turun, barulah ada kebebasan kembali dalam penamaan dan budaya leluhur orang-orang Peranakan dan Totok.
Nah, penamaan versi baru ini, memaksa sebagaian orang-orang Tionghoa, untuk melakukan beberapa langkah mengingat kembali nama keluarga mereka dan tidak serta-merta melepaskan begitu saja nama keluarga mereka. Family name yang paling mudah dilihat variasinya adalah LIEM. Selain penggunaan Liem sendiri, ada banyak variasi yang bisa ditemukan untuk family name ini, misalnya: Limantoro, Limputra, Limbunan. Atau Nama-nama Wijaya (and all its variant), Pangestu, Jonathan, Wibisono, dan masih banyak lagi. Kesemuanya ini merupakan hasil dari keinginan mempertahankan sisa-sisa sedikit dari nama leluhur yang ditanamkan oleh golongan generasi pendahulu. Oh, iya, hampir lupa, untuk masalah SBKRI ini, beberapa orang Tionghoa juga terpaksa melakukan beberapa manuver guna mengurangi tingkat korupsi yang mejadi-jadi, khususnya di daerah-daerah, dengan cara menitipkan anak-anak mereka dibawah nama orang lain dalam keluarga yang memiliki SBKRI. Jadi, jangan heran jika dikalangan teman-teman sekalian ada yang memiliki akte kelahiran dengan nama paman or keluarga lain sebagai orang tua. Sedih memang tapi well, that's the truth. And gua salah satu korbannya, dengan family name Soe jono, which setelah gua gede gua tahu kalo itu lebih cocok dijadikan nama depan daripada nama keluarga. Hehehe!!! :) Tapi sekarang gua sudah melepaskan family name tersebut which give me another trouble, gua gak punya family name, sampai akhirnya family name gua dipaksakan mempergunakan famili name bokap gua yang 3 huruf mandarin, which is Jong. Jadilah nama gua sekarang.......!! (loe dah bisa nebak sendiri!! :P)
Sayang sekali lagi, banyak generasi muda tionghoa yang sudah mulai kehilangan identitas dan terlalu berkiblat ke barat. Tapi, arah yang lebih baik sedang terjadi, seperti belakangan dengan begitu lebarnya kesempatan untuk mempraktekkan budaya asal, makin banyak yang kembali mempelajari budaya dan bahasa mandarin, bahkan yang khusus kembali ke daratan Cina untuk mempelajarinya. Semoga ini merupakan awal baru yang baik untuk akulturasi dan asimilasi budaya di Indonesia yang kita cintai ini.
Posted at 03:44 pm by haucuen
 |  |  | Haucuen a.k.a Moi December 16, 2005 08:33 AM PST
GOLDA, aku percaya padamu, dear!!! :) Kalo gitu kamu udah keturunan ke empat dong!! Aku tuh keturunan ke 2, dear!! :) Kakekku langsung datang dari daratan. :) Btw, kamu mau mengenakan cadar merah nggak? Hihihihihi!!! *sambil sembunyiin cheongsam sutra merah bersulamkan naga dari benang emas* |  |
  |  |  | golda December 16, 2005 04:08 AM PST
chinese ku Totok.. karena kakek dan nenekku masih dlm kandungan saat ortunya masing2 naik kapan dari daratan Cina ke Indonesia lewat jalur Sulawesi. :D |  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi December 8, 2005 03:12 PM PST
Wakakaka, dasar ya loe way!! Hilang kemana aja loe? Akhirnya hidup lagi!! Btw, mengasistensimu itu bahasa baku bukan sehhh!! *sok EYD mode on* |  |
  |  |  | way December 8, 2005 12:20 PM PST
Tulisan mu kali ini sungguh sungguh teramat smart dan tajam. Curiga jangan jangan RIO mengasistensi mu *basa gue ya bo*
Tapi gue salut sama tulisan ini, percaya deh kalo pake research !
|  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi December 5, 2005 08:55 AM PST
Kurpix: Hallllluuuuuuuuuuuuuuuuuuhhh!!
*sambil nyalain api di atas sumbu!! heh!? itu jempol kaki loe ya?* hihihihihi!!! |  |
  |  |  | kurpix December 3, 2005 12:12 AM PST
haluuuuuuuuuuu *melambaikan jempol kaki*
|  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi December 1, 2005 08:37 AM PST
Mbak Ria, itu juga ada benarnya, sebenarnya memang ndak ada terlalu jelas aturan penamaan di kalangan golongan peranakan pada masa belakangan ini, apalagi setelah jaman paksaan ORBA itu. Tapi yang jelas, nama apapun itu, harus mencirikan bagian dari budaya peranakan yang masih kental, khususnya yang golongan ke 3 yang lebih "pure" blood. |  |
  |  |  | siberia November 30, 2005 02:27 PM PST
jadi ingat Ri, Kho Ping Hoo ini katanya belum pernah ke China, tapi dia bisa nggambarin keadaan disana dg detil ya...meskipun beberapa ditemukan kesalahan juga sih...meskipun nggak menganggu jalan ceritanya :)
yg aku amati kalau nama cewek, yg di melayu-kan, seringnya hanya di tambah WATI. LindaWATI, LinaWATI, bisa jadi nama versi mandarinnya ada kata LIN |  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi November 25, 2005 05:21 PM PST
Nah, Christ, itu dia, istilah ini memang dahulu lebih populer daripada sekarang, cuman nggak jelas kenapa istilah ini bisa pudar dan diganti oleh istilah lain yang lebih populer which is "keturunan" padahal istilah "peranakan" lebih mencerminkan budaya yang memang berakar dari bahasa turunan melayu, yaitu baba melayu tadi. |  |
  |  |  | Christ November 25, 2005 04:43 PM PST
KOk istilah "peranakan" agak ganjil di kuping gw Moi. Eh..Agustus maren gw iseng ngramal nasib di Klenteng Sam Po Kong Semarang:D Hehe sekalian buat bahan tulisan di rubrik gw:)) |  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi November 25, 2005 01:18 PM PST
Apaan seh?? Jangan gossip dech!! :P *sambil keluarin piso maksain bang yoyok jelasin maksudnya!!* |  |
  |  |  | rio November 25, 2005 01:09 PM PST
kayaknya gue tahuuu deh sebenernya penamaan sesunguhnya huehuehue... kutang satu huruf doang kok:D. |  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi November 25, 2005 10:30 AM PST
Pakde, iya neh, keburu-buru nggak sempat masukin gambar apapun, lagian kayaknya memang postingan gua nggak bergambar dech, jarang banget yang bergambar hiihihihi!! :)
Namakoe kan dah dijelaskan ANRI JONG, bukan ANRI SOEJONO, itu nama lama hihihiihi!! LOL!! Kalo gua jelaskan membongkar aib dech!! :P |  |
  |  |  | Q November 25, 2005 10:12 AM PST
Huaaa!!!.. panjaaang.. mbok ya dikasih gambar2 biar ada penanda posisi dan penyegar mata yang mbaca.. Anyway, informasi yang menarik :)
Jadi nama melayumu ANRI SOEJONO? :) ... hai JON ... ;) |  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi November 25, 2005 08:14 AM PST
OM DOEL: Si Cheng Ho memang asalnya dari Yunan, hehehehe!! Tapi dia memang mewakili Kaisar Ming waktu itu, gua salah bukan mencari bibit awet muda, tapi untuk "pura-pura" mencari cucu, kaisar Ming terdahulu yang entah kemana kabar dan asal muasalnya, dan diperkirakan melarikan diri lewat laut. Kabar beritanya seh sebenarnya beliau disembunyikan di Biara Budha.
Nah, sebuah berita menarik adalah, sebenarnya si Cheng Ho, ini adalah orang cacat, kemungkinan tangan beliau ini buntung (alias cuman 1), hal ini disebabkan saat pasukan kaisar menyerang wilayah Yunan, daerah suku Hui yang Muslim Mongol Turki (mix), pasukan kaisar sempat memutilasi beberapa bagian tubuh anak ini (usia dia 10 tahun), tapi gak tahu kenapa, dia dikaruniai semangat hidup yang kuat sehingga nggak mati, makanya di bawa oleh Kaisar masuk lingkungan istana, bahkan organ yang putus itu disimpan dan dibungkus dalam kain sutra kemudian ditaruh dalam pot porcelain Cina yang terkenal itu. :)
Well, nama Cheng Ho sendiri adalah nama pemberian Kaisar, untuk tugas beliau tersebut. Nama beliau awalnya adalah Ma Shang Bao, Shang Bao berarti 3 (shang), pusaka (bao). Pusaka di jaman itu tahu gak apa? Ya, organ tubuh yang termutilasi itu. :)
(I can start another log blog about this hehehe!!!).
Errrrrr, mengenai nama gua, sebenarnya nggak ada yang unik, gua udah tanya ke bokap, beliau bilang beliau pengen nama yang singkat dan mudah diingat, maka dipilihlah nama ANRI (bahkan tanpa D, tapi sangat distinctive, gua senang). Tapi untuk stick to the rule, jadilah nama adik co gua ANTON, sebentara buat nama ce lebih mudah, akhirannya pake NY, or kalo dibaca mirip NU (perempuan) dalam pelafalan mandarin. Hehehehe!!! Sekian penjelasan saya, semoga memuaskan!! |  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi November 25, 2005 07:53 AM PST
Beverly: Well, gua gak jago lagi dalam nulis-nulis soal hal begini, bahkan untuk nulis artikel yang satu ini, gua kudu ngubek-ngubek internet dan cari resource buat nulis. Hehehe, tapi gua senang secara itu sejarah gua gitu lowch!! Sejarah loe juga kan? :) |  |
  |  |  | Haucuen a.k.a Moi November 25, 2005 07:52 AM PST
Bang Yoyok, kamu pinter, tapi Jongnya salah, Jong gua tulis dalam bahasa baba melayu, remember? Hehehehe!! Sementara Hau Cuen, itu tulisan dalam semi pinyin semi pelafalan kata asli mandarin, kalo lengkapnya menjadi:
1. Mandarin: Yang Hau Cuen.
2. Baba Melayu: Jong Hao Cuen.
3. Pinyin: Yang Hao Zun.
Nah, begitu kalo mau yang benar hihihihihi!! Pusing-pusing dech!! :P |  |
  |  |  | doel November 25, 2005 02:30 AM PST
Kalau nggak salah, gelombang pertama bukan rombongan Cheng Ho, tapi rombongan yang masih belum menamakan diri "China", tepatnya dari dataran tinggi Yunan...betul nggak?
Sekarang saya sudah tahu sejarah nama-mu, nah saatnya menjelaskan asal muasal "Anri"...ditunggu! :D
|  |
  |  |  | Beverly Lavaniaca November 24, 2005 06:07 PM PST
Nice blog. Senang baca yang penuh kreatif. Ada waktu boleh tuh ajarin aku tulis blog. Salam Beverly |  |
  |  |  | rio November 24, 2005 05:30 PM PST
JONG HAU CUEN? Gitu yaaa? Aduuuhh.. tulisan lo ini yaa... makin ribet booo... Untung udah nggak masalah pake nama apapun yaaa... |  |
|